Polda NTB Bongkar Penyelundupan 2 Kg Sabu di Cakranegara

Penderita rabun ayam bakal sulit melihat jika kekurangan sumber cahaya. Tetapi, kekurangan para penderita penyakit tersebut malah  dimanfaatkan oleh para bandar narkoba. Untuk menyelundupkan sabu.

—————————

Tim khusus Ditresnarkoba Polda NTB bergerak ke wilayah Cakranegara sekitar pukul 02.10 Wita, Kamis (30/7). Mereka mendapatkan informasi ada penyelundupan narkoba dari Medan, Sumatera Utara.

Tim khusus yang dipimpin AKP I Made Yogi Purusa Utama meminta tim untuk menyebar. Informasinya, kurir bersama dua cewek akan bepergian menggunakan taksi online.

Tepatnya, di Jalan Sriwijaya, mobil yang ditumpangi kurir tersebut dihentikan. Handphone mereka disita.

Tim meminta mereka kembali ke hotel tempatnya menginap. Tepatnya di Jalan Palapa, Cakranegara.

Ketika keluar dari mobil, kurir berinisial MF alias Panji ditenteng dua perempuan berinisial LRM alias Rita dan RS alias Ayu . ”Saya tidak bisa melihat,” kata Panji sambil digiring dan dikawal tim khusus Ditresnarkoba Polda NTB menuju lobi hotel.

Setelah dicek ternyata Panji menderita rabun ayam.  Dua perempuan itu bertugas menentengnya dan sebagai penghubung komunikasi dengan pemesan barang berinisial MK alias Gemok.

Di dalam mobil tersebut terdapat dua koper. Berwarna hitam dan pink. Sebelum digeledah, dua anjing pelacak dari K-9 Polda NTB diturunkan.

Anjing pelacak terus mengendus koper yang diduga didalamnya berisi sabu. Anjing tersebut terus mencium koper sambil menggonggong. ”Coba bongkar,” perintah Dirresnarkoba Polda NTB Kombes Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf.

Dua koper itu dibongkar di lobi hotel. Disaksikan petugas hotel.

Koper berwarna hitam terlebih dahulu dibuka. Didalamnya terdapat baju dan 10 botol bedak mereka Enchanteur.

Satu per satu botol bedak tersebut dibuka. Didalamnya masing-masing berisi bungkusan berisi sabu. Bungkusnya terbuat dari kertas khusus dengan diliit lakban.

Baca Juga:  Ditlantas Polda NTB dan Jasa Raharja Kembali Mengajar Cara Aman Berlalu Lintas

Selanjutnya tim membuka koper warna pink. Isinya hampir sama dengan koper berwarna hitam.

Di koper berwarna pink tersebut terdapat delapan botol bedak. Didalamnya juga berisi sabu.

Tim langsung melakukan pengecekan melalui alat tes kit. Langkah itu untuk memastikan, apakah barang tersebut benar-benar sabu atau tidak. ”Setelah kita lakukan tes, memang barang itu merupakan narkoba jenis sabu,” ungkapnya.

”Setelah kita timbang berat sabu ini 2,1 kilogram yang dimasukkan di 18 botol bedak,” kata Helmi.

Modus yang digunakan dalam penyelundupan tersebut tergolong baru. Para bandar memanfaatkan penderita gangguan penglihatan untuk mengirim narkoba. ”Mereka (bandar) memanfaatkan orang yang menderita rabun ayam untuk mengirim sabu agar polisi tidak mencurigai gerak-geriknya,” ujarnya.

”Ini dikenal dengan modus psikologis. Jadi orang normal yang melihat merasa simpati dan tidak ada kecurigaan kalau dia membawa narkoba,” ujarnya.

Helmi belum memastikan apakah Panji baru pertama kali mengirim barang tersebut. ”Kita masih kembangkan,” ujarnya.

Pemesan Sabu Dilumpuhkan

Setelah menangkap ketiga terduga kurir, tim mengembangkan kasus tersebut. Berupaya menangkap pemesan barang, berinisial MK alias Gemok.

Namun hingga malam Gemok tidak aktif. Sehingga, tim khusus Ditresnarkoba Polda NTB membubarkan diri.

Keesokan harinya, Jumat (31/7), tim melanjutkan perburuan menangkap Gemok. Modus penjebakan dijalankan.

Jumat pagi, Panji  menerima pesan dari Gemok. Dia diminta datang ke lokasi Jalan Rajawali Raya, Selagalas, Kota Mataram.  ”Isi pesannya diminta mengantarkan barang,” jelasnya.

Tim bergegas. Gemok muncul dilokasi seorang diri dengan kendaraan roda duanya. Transaksi pun terjadi.

MF yang disiapkan dengan dua kilogram sabu-sabu dalam 18 botol bedak datang menghampiri Gemok dan menyerahkan barang bukti. ”Ketika terjadi transaksi, tim  langsung melakukan penyergapan,” bebernya.

Baca Juga:  Tingkat Kematian Pasien Covid-19 di NTB Masuk Lima Besar Nasional

Namun, Gemok mencoba melakukan perlawanan dengan mengacungkan sebilah keris. Gemok yang posisinya sudah terkepung, tetap menolak menyerahkan diri meskipun personel telah memberikan tembakan peringatan ke udara.

“Karena ada perlawanan dan itu membahayakan keselamatan anggota, dengan terpaksa anggota mengambil tindakan tegas, dilumpuhkanlah sang bandar itu,” kata Helmi.

Setelah dilumpuhkan, personel mengamankan keris yang ada padanya. Satu pucuk revolver rakitan dengan dua butir peluru juga ditemukan dari penggeledahan badan.

Akibat salah satu luka tembak yang bersarang di bagian dadanya, hingga kini Gemok masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara Mataram. “Kita berdoa semoga dia selamat (dari luka tembak) supaya jelas jaringannya ini seperti apa,” ungkapnya. (arl/r2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *