Kenaikan Konsumsi dan Ulah Spekulan Sebabkan Elpiji Langka di Mataram

Mataram (Lomboknews.my.id) – Section Head Communication Pertamina MOR V Ahad Rahedi mengatakan, kelangkaan gas elpiji bukan karena barang yang tidak tersedia.

”Beberapa lokasi di sekitar Mataram yang mengeluh kelangkaan elpiji, bisa jadi disebabkan permintaan dan kebutuhan masyarakat setempat meningkat signifikan,” katanya kepada Lombok Post, Jumat (7/8).

Kemungkinan lainnya juga bisa disebabkan oknum spekulan yang memperjualbelikan kembali elpiji di level pengecer. Mereka menahan stok yang dimiliki untuk memicu kenaikan harga.

”Jika kesulitan mendapat elpiji di pengecer, kami imbau masyarakat langsung membeli di pangkalan Pertamina resmi. Jika masih sulit, mohon disampaikan lokasi pangkalan tersebut agar langsung kami kroscek keadaannya di lapangan seperti apa,” tegasnya.

Pihaknya sudah menggelontorkan tambahan suplai elpiji 14 persen atau 390 metrik ton perhari. Penambahan bertepatan sebelum momen perayaan Idul Adha. Dalam hal pengawasan dan penyaluran, merupakan wewenang Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas, bersama dengan pemerintah pusat dan daerah serta aparat penegak hukum.

”Sejauh ini distribusi tetap dilakukan seperti biasa. Pertamina sebagai operator pelaksana akan menyesuaikan pola petunjuk pelaksanaan dari regulator. Dari Pertamina melalui lembaga penyalur, hingga paling akhir adalah pangkalan resmi,” katanya.

Ia menjelaskan, agar verifikasi penyaluran elpiji subsidi sesuai dengan wilayah pangkalan, pihaknya telah mensyaratkan pembeli melampirkan KTP dan KK. Termasuk menerapkan mekanisme sanksi bertahap bagi yang melakukan penyaluran tidak sesuai aturan.

”Misalnya menjual dengan harga di atas harga eceran tertinggi (HET), melayani penjualan ke pelaku usaha yang tidak termasuk dalam kriteria UMKM. Oknum tersebut dikenakan sanksi mulai dari surat peringatan hingga pemutusan hubungan usaha (PHU),” ujarnya.

Meski gas elpiji subsidi langka, sejumlah pengecer mengatakan tidak ada kenaikan harga. Baiq Puji Setia Ningsih pemilik Kios Mama Ina mengatakan harga yang diterima masih normal Rp 15.500.

Baca Juga:  Pengedar Sabu di Karang Bagu Matarm Kembali Diciduk

”Kami jual Rp 19.000,” katanya.

Ia juga mengalami kesulitan untuk menukarkan tabung gas yang kosong. Terlebih, jumlah jatah yang diterima terbatas. Pihak pengampas hanya mengantarkan sepekan sekali, dengan jatah maksimal 10 tabung per kios.

”Kelangkaan ini membuat pembeli dari tempat jauh turut mencari ke sini. Jadi rebutan,” ujar wanita tiga anak ini. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *