Hanya Tersisa 77 Titik Mata Air Lombok Utara

Tanjung (Lomboknews.my.id) – Pemerintah KLU mencatat jumlah mata air potensial hanya tersisa 77 titik. Angka potensial itu terdeteksi sangat minim, dibandingkan total 238 mata air yang sebelumnya ada.

Kepala DLHPKP KLU, HM Zaldy Rahardian mengatakan terus berupaya menjaga keberlangsungan mata air yang tersisa. Hal itu penting, untuk memenuhi suplai air bersih warga. Salah satunya dengan program perlindungan dan konservasi sumber daya alam, melalui penanaman bibit pohon pelindung.

Diterangkan lebih lanjut, jumlah mata air yang dilindungi dinas tahun lalu, 72 mata air. Dari pengambilan sampel di beberapa titik mata air, diketahui debit air yang tersedia rata-rata 10 liter per detik.

”Persentase mata air terlindungi mencapai 93,51 persen,” sambung dia

Pada program perlindungan dan konservasi mata air, Zaldy menyebut sudah melakukan penanaman bibit pohon pelindung di berbagai titik mata air pada lima kecamatan. Melalui bidang terkait, telah didistribusikan total 17.443 bibit selama 2019.

Rincian distribusi bibit meliputi beringin 4.630 bibit, mahoni 4.550, kemiri 3.427, matoa 2.100, bambu petung 1.961, durian unggul 373 dan manggis 402 bibit.

Berdasarkan alokasi tiap kecamatan, rataan distribusi lebih banyak diberikan di tiga kecamatan. Yaitu Bayan, Kayangan, dan Gangga. Misalnya bibit beringin di ketiga kecamatan itu masing-masing 1.250 bibit. sedangkan Tanjung dan Pemenang lebih sedikit, masing-masing 440 bibit. Pertimbangannya meski mata air di dua kecamatan ini lebih sedikit, namun relatif terjaga.

”Kita berharap mata air yang ada tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih warga di masa depan,” tandas dia.

Sebelumnya, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD KLU I Ketut Pasek Suparta mengatakan, ada beberapa mata air yang debitnya berkurang akibat pengaruh musim. Hal ini berkaitan dengan tingkat kekeringan yang terjadi setiap tahun.

Baca Juga:  Tak Disangka Kurma Datu di Lombok Utara Bisa Tumbuh dan Panen

”Banyak NGO yang menggali sumur bor tapi mata airnya tak kunjung ditemukan,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *