Terdakwa Korupsi Bantuan Rumah Gempa Loteng Pidana Penjara Selama 4 Tahun

Mataram (Lomboknews.my.id) -Terdakwa korupsi dana bantuan rumah tahan gempa (RTG) Desa Teratak, Batukliang Utara, Lombok Tengah (Loteng) harus gigit jari. Hakim Banding Pengadilan Tinggi NTB memvonis tiga terdakwa  L Nu’mansyah, L Samsul Anwar, dan Doni Bayangkari lebih berat.

Dari data SIPP PN Mataram, putusan banding terhadap tiga terdakwa terdaftar dengan nomo 7/PID.TPK/2020/PT Mataram. Sidang diketuai majelis hakim Mas’ud beserta hakim anggota Miniardi dan Sutrisno.

Majelis menjatuhkan pidana penjara selama empat tahun serta pidana denda Rp 200 juta subsider satu bulan penjara. Ketiga terdakwa terbukti melanggar pasal 12 huruf e Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Sebelumnya pengadilan tingkat pertama memvonis mereka satu tahun penjara dan dibebankan membayar denda Rp 50 juta subsider satu bulan kurungan. Hakim PN Tipikor Mataram menganggap mereka melanggar pasal 11 Undang-undang Tipikor.

Karena telalu berat, para terdakwa melawan. Mereka melayangkan kasasi ke Mahkamah Agung (MA).

Kasi Pidsus Kejari Lombok Tengah Agung Kunto Wicaksono mengatakan, dia sudah menerima putusan banding dari PT NTB. Dia juga sudah mendapatkan kabar para terdakwa melayangkan kasasi ke MA. “Mereka kasasi, kita juga kasasi,” kata Agung, kemarin (9/8).

Saat ini, tim masih menyusun kontra memori kasasinya. Guna mempersiapkan diri menghadapi kasasi terdakwa. ”Masih disusun (kontra memori kasasi),” jelasnya.

Menurutnya, vonis putusan banding belum mencerminkan rasa keadilan. Sebab, pungli itu dilakukan terhadap korban bencana Gempa Lombok 2018 lalu. ”Ini korupsi saat bencana. Seharusnya diputus sesuai tuntutan,” ujarnya.

Jaksa penuntut umum sebelumnya menuntut para terdakwa lima tahun penjara. Juga dibebankan membayar denda Rp 200 juta subsider dua bulan kurungan.

Baca Juga:  Antisipasi Gagal Panen, BMKG Latih Petani di Lombok Tengah

Diketahui, tiga fasilitator RTG L Nu’mansyah, L Samsul Anwar, dan Doni Bayangkari telah memeras aplikator CV Fana Alam Semesta pada  pembangunan RTG. Mereka meminta uang yang bagian dari fee proyek pengerjaan 13 rumah rusak berat dengan biaya Rp 650 juta.

Mereka meminta Rp 5,2 juta dari aplikator. Mereka janjian di salah satu rumah makan di Loteng. Pada akhirnya, mereka tertangkap tangan oleh Polres Loteng. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *