Ibu Kandung Linda Menuntut Keadilan, Polisi Siapkan Pasal Pembunuhan

Mataram (Lomboknews.my.id) – Kasus kematian Linda Novitasari (23), calon mahasiswi pascasarjana Magister Ilmu Hukum Universitas Mataram masih menyisakan duka bagi keluarga. Ibu kandung korban, Hj Siti Akmal Har menginginkan kasus ini diusut sampai tuntas.

“Siapa pelakunya, dan apa motifnya. Kalau dia (Linda meninggal) dengan tangan orang lain, ya apa ya, kasarnya itu hati kecil ini kasarnya, mohon maaf ya Mas, nyawa balas nyawa. Meskipun itu memang ajalnya,” kata Siti dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Selasa, 11 Agustus 2020, Siti Akmal melanjutkan pemeriksaannya di Mapolresta Mataram sebagai saksi. Pensiunan guru dan istri purnawirawan Polri ini hanya menandatangani Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Sebelumnya, dia sudah menjawab 43 pertanyaan saat diklarifikasi di tahap penyelidikan.

Siti meyakini putri ketiganya bukan meninggal karena bunuh diri. Sebab, putrinya itu sedang memulai meraih mimpi-mimpinya. Apalagi pada Juli lalu sudah dinyatakan lulus seleksi S2 Ilmu Hukum di Unram. Namun, cita-cita putrinya menjadi dosen itu harus pupus di awal jalan.

Siti masih percaya putrinya bisa menjaga diri dalam hal menjalin hubungan asmara. Namun dia tidak menyangka putrinya berpulang mendahuluinya. “Apalagi ini karena motif cinta. Apakah cinta harus begitu? Kan masih banyak cara lain cinta,” sesalnya.

Putrinya, Linda ditemukan sudah tidak bernyawa pada Sabtu, 25 Juli 2020 lalu. Linda ditemukan dalam kondisi tergantung pada tali berwarna oranye di rumah kekasihnya, Rio di BTN Royal Mataram, Jempong Baru, Sekarbela, Mataram.

Kapolresta Mataram Kombes Pol Guntur Herditrianto mengatakan, penyidik sedang menyelesaikan tahapan penanganan kasus. Sehingga dirinya enggan membeberkan hasil penanganannya. “Kasusnya memang sudah naik penyidikan,” ucapnya dikonfirmasi Selasa, 11 Agustus 2020.

Tahapan penyidikan ditempuh setelah penyidik meyakini adanya dugaan tindak pidana. Yakni seperti diatur dalam pasal 338 KUHP tentang orang yang dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama 15 tahun.

Baca Juga:  Kekeringan Kabupaten Bima, Puluhan Hektar Padi di Sanggar Terancam Gagal Panen

“Iya dugaan pasal 338 (KUHP),” kata Guntur.

Kapolresta belum mengungkap mengenai apakah sudah ada penetapan tersangka dalam kasus tersebut. Meskipun demikian, tim penyidik sudah mengantongi lebih dari dua alat bukti untuk menjerat tersangkanya.

“Nanti saya saya rilis. Saya duluan ya. Assalamualaikum,” ucapnya sambil melangkah masuk ke mobil dinas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *