139 Napi di Rutan Praya diberi Remisi Kemerdekaan Indonesia

Loteng (Lomboknews.my.id) – Sebanyak 139 Narapidana (Napi) di Rumah Tahanan (Rutan) kelas II B Praya Lombok Tengah (Loteng) mendapat remisi Kemerdekaan 17 Agustus 2020.

Kepala Rutan Kelas II B Rutan Praya, Jumasih mengatakan, dari 228 Napi,  sesuai keputusan Kementerian Hukum dan Ham, sebanyak 139 napi yang yang diberikan remisi kemerdekaan Tahun 2020.

“Dari 140 Napi yang diusulkan itu, 139 yang dapat Remisi Kemerdekaan RI. Karena satu orang pindah golongan menjadi pidana kurungan pengganti denda,” ujar Jumasih kepada wartawan, Senin (17/8).

Adapun remisi yang diberikan dengan keringanan hukuman, yakni  satu bulan sebanyak 43 orang, remisi dua bulan sebanyak 34 orang, remisi tiga bulan 35 orang, remisi empat bulan 17 orang, remisi lima bulan 7 orang dan remisi enam bulan satu orang.

“Remisi yang diberikan itu 1 sampai 6 bulan. Kalau bebas tidak ada,” jelasnya.

Sementara  untuk napi tindak pidana terorisme, narkotika, prekursor narkotika, korupsi, serta kejahatan terhadap keamanan negara diusulkan secara khusus, karena mempuyai syarat ketat. Seperti syaratnya, bersedia berkerja sama dengan penegak hukum untuk membongkar perkara tindak pidana yang dilakukan.

“Mereka harus membayar lunas denda dan uang pengganti, harus mengikuti program deradikalisasi yang dilaksanakan lapas dan BNPT, tidak mengulangi perbuatan tindak pidana terorisme secara tertulis, dan setia terhadap NKRI,” ujarnya.

“Ada beberapa yang napi yang diusulkan remisi jalur khusus itu. Dan disetujuai,” tegasnya.

Menurutnya, pemberian remisi adalah bentuk pencapaian seorang warga binaan di Rutan. Tentunya, kata dia, napi yang mendapatkan remisi yang memiliki kelakuan baik dan sudah memenuhi syarat yang telah ditentukan.

“Remisi diberikan sebagai wujud pencapaian perbaikan diri yang tercermin dari sikap perilaku sehari-hari para napi,” pungkasnya. 

Baca Juga:  Pelanggaran ASN di Pilkada Cenderung Tinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *