BDR Berdampak Negatif, Disdik akan Tunjuk Pendamping

Mataram (Lomboknews.my.id) – Dinas Pendidikan Kota Mataram akan menunjuk sejumlah pendamping untuk mengawasi aktivitas belajar dari rumah (BDR) peserta didik. Hal ini mengantisipasi dampak negatif yang dikeluhkan orangtua.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, H. Lalu Fatwir Uzali dikonfirmasi, Senin, 24 Agustus 2020 mengatakan, saat pembelajaran berlangsung, akses internet akan dikunci. Caranya nomor telepone seluler didaftarkan. Disdik juga memperketat penggunaan wifi. Pihaknya tidak menginginkan kasus di sejumlah daerah justru anak remaja yang tidak memiliki kepentingan terhadap pembelajaran daring memanfaatkan jaringan internet.

Sistemnya adalah jaringan internet akan dipasang di satu tempat yang benar – benar peserta didiknya kategori tidak mampu. “Kita tidak mau seperti daerah lain wifi-nya ditarik karena ada permasalahan akses,” ujarnya.

Dari hasil monitoring dan evaluasi BDR, justru terjadi ketimpangan antara sekolah satu dengan sekolah lainnya. Sistem pembelajaran yang diterapkan tidak ada kesamaan, sehingga memunculkan kelemahan. “Malah muncul ketimpangan dari hasil evaluasi kita,” ucapnya.

Disdik saat ini sedang mengembangkan aplikasi pembelajaran untuk menunjang BDR. Aplikasi ini sedang dipejalari apakah memungkinkan dikembangkan atau sebaliknya. Aplikasi ini akan diserahkan ke masing – masing sekolah karena yang melaksanakan adalah sekolah itu sendiri.

Akan tetapi sedang diupayakan siswa mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat. Seperti bantuan kuota atau fasilitas lainnya. Karena ada rencana usulan dari Dinas Komunikasi dan Informatika memberikan fasilitas bagi siswa. Teknis pelaksanaan sedang dikoordinasikan untuk mencari solusi terbaik agar proses administrasinya bisa dipertanggungjawabkan.

“Tapi kalau sekolah memiliki keinginan sendiri atau ada kerjasama dengan perusahaan, silakan saja. Kita tidak akan menghalangi,” terangnya.

Terkait penempatan guru saat BDR dikhawatirkan menimbulkan kerumunan. Fatwir menegaskan, BDR maksimal dihadiri 20 -30 siswa. Guru memiliki tanggungjawab mengatur agar siswa memperhatikan jarak dan menghindari kerumunan. Berbeda halnya pembelajaran di sekolah yang melibatkan siswa banyak, sehingga penerapan protokol kesehatan Covid-19 sulit diterapkan. 

Baca Juga:  Anak Yatim Korban Angin Puting Beliung Tidak Dapat PKH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *