Data Pemilih Lombok Utara Masih Bermasalah

KLU (Lomboknews.my.id) – Proses coklit (pencocokan dan penelitian) data pemilih Pilbup KLU sudah selesai. Namun hasilnya amburadul. Bawaslu menemukan banyak pemilih yang belum tercoklit. Hal ini ditemukan saat Bawaslu KLU melakukan proses sampling di tiap kecamatan.

”Terakhir itu ada sekitar 10 KK yang belum tercoklit,” ujar Ketua Bawaslu KLU Adi Purmanto, Senin (24/8).

Selain temuan tersebut juga ada temuan warga meninggal dan warga pindah masih tercatat namanya. Bahkan ada pemilih yang TMS (tidak memenuhi syarat) pada 2019 namun masuk model A-KWK saat ini.

”Pemilih tambahan di pemilu 2019 tidak ada dalam A-KWK dan itu sebanyak 185 pemilih. Ini harus segera diselesaikan KPU,” sambung dia.

Selain itu, ada juga data pemilih yang ganda. Namanya sama, dengan NIK berbeda masih ditemukan. Termasuk juga pemilih yang tidak terdaftar di model A-KWK. Temuan-temuan tersebut akan dieksekusi pada pleno mendatang.

Pihaknya juga mempertanyakan sinkronisasai DP4 dengan DPT 2019. Sebab selalu muncul persoalan yang sama. Hal ini akan merugikan masyarakat karena kehilangan hak pilih. Begitu juga bagi paslon nantinya.

”Tugas kami ini untuk menjaga hak pilih mereka ini,” tegas dia.

Ia mengimbau warga yang tidak terdata atau tercoklit melapor ke Bawaslu. Pihaknya sudah membuka posko pengaduan.

”Harapan saya kepada masyarakat agar tidak pasif. Ini adalah hak kita semua untuk menentukan siapa pemimpin terbaik di kabupaten ini,” jelas dia

”Kami berharap KPU ini agar segera melakukan coklit ulang,” tandas dia.

Terpisah Divisi Perencanaan dan Data KPUD KLU Zaki Abdillah membenarkan adanya temuan panwascam tersebut.  Seperti di Desa Medana, PPK mengakui adanya kurang koordinasi dengan PPDP TPS 3 dan 4. Temuan-temuan tersebut sudah ditindaklanjuti dengan melakukan perbaikan.

Baca Juga:  Makmur-Ahda Klaim Ungguli Mohan-Mujib Survei Internal

”Di sana dua TPS ini satu dusun,” ujarnya.

Zaki mengatakan, hal seperti ini memang sering terjadi ketika dua TPS dalam satu dusun.  Sering kali pemilih dengan TPS terdekat tidak ada namanya, namun ada di TPS lainnya.

”Tapi Alhamdulillah sudah kita selesaikan,” kata dia.

Sementara temuan lain di Kecamatan Kayangan, tepatnya di Desa Selengen ada beberapa rumah yang tidak ditempelkan stiker coklit. Salah satu penyebabnya karena pemilih yang bersangkutan ternyata memiliki dua rumah. Hal serupa juga terjadi di Dusun Sambik Jengkel.

”Tidak mungkin kita tempel seluruhnya,” ujar dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *