Dukungan Golkar Terbelah, Di Pilbup KLU?

KLU (Lomboknews.my.id) – DPD II Golkar KLU dikabarkan mengalami polemik internal terkait arah dukungan dalam Pilbup. Banyak kader terang-terangan melawan arah partai.

Ketua DPD II Golkar KLU H Djekat mengatakan tak ingin mengekang kebebasan dukungan kader. Sebab bagi partai, suara kader merupakan fakta lapangan yang harus dipertimbangkan DPD II hingga DPP.

”Silakan saja, namanya juga aspirasi,” ujar dia, Senin (24/8).

Aspirasi arus bawah tidak bisa begitu saja dilawan. Fakta jika kader lebih banyak mendukung Djoda Akbar dibandingkan Nadi juga tidak bisa tidak diindahkan.

”Suara arus bawah itu juga penting,” tegasnya lagi.

Dia percaya kader memiliki penilaian sendiri usai melihat kinerja dua bupati sebelumnya, H Djohan Sjamsu dan H Najmul Akhyar.

Namun dirinya belum mau berkomentar terkait pengurus Golkar menjadi Tim Pemenangan paket NADI apabila SK jatuh ke tangan petahana. Sementara ini, ia akan mengikuti suara terbanyak kader.

”Misalnya SK dukung petahana, saya tidak bisa berbuat apa-apa kalau 80 persen kader memenangkan Djoda, itu di luar kemampuan saya,” kilahnya.

Perihal tudingan anggota DPRD yang tidak bersedia mendukung Djoda, ia meyakini tidak semua seperti itu. Hingga saat ini, ia belum melakukan komunikasi politik di internal Fraksi Golkar.

Terpisah, juru bicara kader Golkar Citrawadi mengatakan, banyaknya kader yang akan berlawanan itu terjadi jika SK diberikan pada petahana.  Mereka siap melawan gerbong partai jika aspirasi arus bawah pada paket Djoda Akbar tidak diindahkan.

”Alasannya karena kami melihat masa depan KLU ada di tangan Pak Djohan. Dari segi sejarah politik beliau beda dari calon lain yang suka nyalip di tikungan,” tegas  dia.

Ia menjelaskan, jauh sebelum Golkar dikabarkan akan mengarah ke petahana, aspirasi kader tingkat bawah sudah ada. Mereka menyuarakan ke DPP melalui DPD II dan DPD I agar memberikan SK dukungan kepada Djohan Sjamsu. Sebab bagi para kader, Pilbup 2020 tidak sekedar kompetisi mencari pemimpin, melainkan sosok yang mampu membangun daerah.

Baca Juga:  Sebut Konstruksi Monumen Mataram Miring

”Kalaupun ada barisan kader tidak mengarah ke Djoda, maka itu adalah anggota DPRD dari Golkar,” cetus dia. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *