Dirut RSIA Permata Hati klarifikasi kematian bayi asal Pajang Mataram

Mataram (Lomboknews.my.id) – Direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Permata Hati Mataram, dr. Agus Thoriq, Sp.OG angkat bicara terkait adanya pasien bayi yang meninggal tanggal 18 Agustus 2020 lalu.

Agus menjelaskan pasien atas nama Gusti Ayu Arianti (23) sebelumnya sudah dilayani secara maksimal. Terkait informasi yang beredar kata dia, pihak rumah sakit tidak pernah meminta pasien untuk melakukan rapid test ulang.

“Sehingga yang beredar di media bahwa itulah yang menyebabkan bayinya meninggal,” katanya saat dikonfirmasi, Jumat (28/8) siang tadi.

Kronologinya kata Agus, pasien dibawa ke IGD tepat pukul 10.50 dan dilakukan pengecekan untuk persiapan operasi persalinan. Kemudian kata Agus, pasien dilakukan operasi pada pukul 12.20 Wita.

“Jadi kita tidak lakukan rapid test ulang. Karena jika pasien datang SOP-nya memang harus menunjukkan hasil rapid test. Apalagi ini pasien asal Mataram. Pasti sudah dapat rapid test secara gratis di puskesmas setempat,” ujarnya.

Selain itu kata Agus, bayi dari Gusti Ayu Arianti diperkirakan telah meninggal dunia 6 hingga 12 jam sejak dalam kandungan.

“Kita prediksi sebelum dilahirkan bayi memang sudah meninggal dunia. Itu dari hasil pemeriksaan pihak kami. Kita juga punya bukti digitalnya kok,” jawabnya.

Sesuai dengan SOP penanganan pasien khusus ibu kata Agus, pihaknya tidak menerapkan pelayanan rapid test. “Karena RSIA Permata Hati bukan rujukan rapid test,” katanya.

Apalagi jelas dia, saat itu kondisi pasien dalam keadaan darurat. Semua pasien dengan kondisi darurat harus ditangani sesegera mungkin.

Pun, kondisi pasien saat itu memiliki tekanan darah di bawah 100 mmHg. Padahal kata Agus, jika hendak melakukan operasi melahirkan, ibu bayi harus memiliki tekanan darah lebih dari 110 hingga 140 mmHg.

Baca Juga:  Masih Disanksi Teguran Pelanggar Protokol Kesehatan

“Saat itu pasien memiliki tekanan darah 47 mmHg. Karena kondisi emergency kita tetap lakukan operasi berbarengan dengan donor darah untuk pasien,” jelasnya.

Wakil Direktur Pelayanan RSIA Permata Hati, Arief Rahman menambahkan, kematian bayi tersebut bukanlah akibat  rapid test ulang.

“Ini seperti ada yang belum sinkron. Jadi kematian bayi itu sejak dalam kandungan. Yang kemungkinan bisa 12 jam sebelum lahir atau lebih. Karena saat bayi keluar tidak ada darah sedikitpun yang keluar dari rahim pasien,” pungkasnya.

Arief pun membeberkan, Pihak RSIA  Permata Hati sudah bekerja secara maksimal membantu proses kelahiran bayi pasien. Adanya berita beredar di media yang menjelaskan bahwa bayi pasien meninggal karena menunggu rapid test tidaklah benar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *