Ratusan pelajar di NTB menikah saat Pandemi Covid-19, Bosen Belajar Di rumah

NTB (Lomboknews.my.id) – Fenomena baru terjadi di dunia pendidikan NTB. Diduga terlalu lama dan bosan belajar dari rumah, para siswa siswi memutuskan menikah. Data terbaru,   148 pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) naik ke pelaminan.

Kepala Seksi (Kasi) Kurikulum Bidang Pembinaan SMA, Dikbud Provinsi NTB Purni Susanto membenarkan data itu. Angka tersebut didapatkan dari hasil survei akhir pekan kemarin kepada semua SMA di NTB.

“Memang sesuai data kami, ada 148 siswa SMA Se-NTB yang menikah saat pandemi,” aku Purni saat dihubungi kicnews.today, Jum’at (28/8).

Dari seluruh sekolah dengan pemilihan responden,  hanya 131 SMA negeri yang memberikan respon informasi,   lima diantaranya  SMA  swasta.

Purni menyimpulkan, pernikahan siswa SMA ini dipicu Pandemi covid-19 yang mengharuskan siswa Belajar Dari Rumah (BDR). Sebab pada survey yang dilakukan Dikbud NTB memberikan pertanyaan jumlah siswa yang menikah saat pandemi. Selanjutnya sekolah tersebut memberikan angka siswanya yang menikah saat pandemi ini.

“Sekolah berikan angka, mulai dari nol,” tambanhnya.

Dari data yang didapatkan Dikbud NTB, siswa SMA tertinggi yang menikah ada di salah satu SMA di Praya Timur.
“Tertinggi di salah satu SMA di Lombok Tengah, ada sembilan siswa yang nikah, sekolah lain rata-rata ada lima siswa,” terangnya.

Purni berpendapat jika waktu survei diperpanjang dan sekolah swasta lebih banyak yang mengikuti dimungkinkan angka pernikahan untuk siswa jenjang SMA yang menikah bertambah.

“Bila waktu survey diperpanjang dan sekolah swasta ikut ngisi, mungkin angkanya akan lebih besar lagi,” tandasnya.

Fenomena ini sebelumnya direspon Wakil Ketua Dewan Pendidikan Lotim, H Gufranuddin. Ia  menegaskan, guru tidak mengawasi peserta didik diluar jam pelajaran sekolah, sehingga di rumah menjadi tanggung jawab orang tua.

Baca Juga:  Kekeringan Kabupaten Bima, Puluhan Hektar Padi di Sanggar Terancam Gagal Panen

Gufranuddin melihat adanya usia sekolah yang menikah, sah-sah saja. Namun menjadi miris jika dikaitkan dengan siswa yang menikah dengan lamanya siswa di rumah untuk belajar daring. Siswa ada pada titik kejenuhan karena terus belajar dari rumah via online sehingga memutuskan menikah. “Bisa jadi, mereka kan tidak tahu apa yang dikerjakan,” tambahnya.

Solusinya, menurut Gufranuddin orang tua betul-betul memanfaatkan kesempatan ini untuk mendidik anak-anaknya dan menyelipkan pesan-pesan moral. Terlebih para orang tua saat ini lebih banyak waktu bersama anak-anakanya.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *