Sebut Konstruksi Monumen Mataram Miring

Mataram (Lomboknews.my.id) – Konstruksi bangunan Monumen Mataram Metro diduga miring. “Pengakuan pelaksana proyek, ada kemiringan 10 derajat. Sehingga lift tidak bisa terpasang,” beber anggota Komisi III DPRD Kota Mataram Ahmad Azhari Gufron kepada Lombok Post.

Hal tersebut diketahui ketika dewan turun melakukan inspeksi. Dampaknya, dewan masih mempertimbangkan jika eksekutif berencana ingin melanjutkan proyek ini.

Dari pemaparan pelaksana, monumen ini dibangun dua tahap. Yang pertama adalah pembangunan struktur pondasi. Pengerasan area pondasi di Bundaran Jalan Lingkar Selatan. Setelah struktur pondasi selesai, baru kemudian dilakukan pembangunan monumennya.

“Cuma perencanaannya kurang karena harusnya tidak dilakukan secara konvensional. Ini dilakukan secara manual menyebabkan prosesnya lama,” ucap politisi PAN ini.

Dokumen ekspose yang disampaikan ke dewan juga ternyata berbeda dengan  hasil kerja pelaksana. Ruang kosong yang ada di dalam monumen akhirnya diubah menjadi struktur menara.

“Akhirnya sampai sekarang nggak ada lift. Karena untuk memasang lift harusnya kan bangunan presisi,” terangnya.

Ditambah, ornamen atau yang semula disiapkan jadi ruang baca terpaksa dibuat menjadi struktur. “Makanya kalau dari kami benahi dulu, baru lanjutkan. Karena memang itu ditemukan ada kemiringan saat kami turun,” bebernya.

Untuk mengatasi persoalan kemiringan, pihak pelaksana menurutnya membangun penyangga di empat titik sudut monumen. Padahal, dalam ekspose, penyangga tersebut sebenarnya tak direncanakan.

Terpisah, Kepala Dinas PUPR Miftahurrahman dikonfirmasi mengenai dugaan kemiringan Monumen Mataram Metro membantah hal tersebut. “Nggak miring. Arsitekturnya adalah kombinasi bangunan tegak dan bangunan miring. Jadi susah ngukur dia miring atau nggak,” terangnya.

Terkait pemasangan lift yang belum bisa terpasang, ia mengaku pihaknya belum tahu apa persoalannya. “Tapi kalau dari kami nggak ada (kemiringan),” jelasnya.

Baca Juga:  Pembangunan konstruksi kios kuliner di Taman Loang Baloq

Apakah monumen Mataram Metro mau dilanjutkan? Miftahurraham menjelaskan tergantung kondisi pendanaan. Hanya saja, untuk saat ini pihaknya menegaskan tidak bisa di APBD Perubahan. Karena ada beberapa pekerjaan prioritas yang lebih membutuhkan pendanaan.

“Ada banyak yang lebih prioritas. Apalagi dengan kondisi pandemi,” terangnya.

Rencananya, jika kondisi anggaran tak juga normal, maka pekerjaan pembangunan monumen tinggal dilanjutkan dengan pembangunan landscape taman dan air mancur. Total biaya tambahan yang akan dibutuhkan sekitar Rp 1,5 sampai Rp 2 miliar. “Cukup tinggal taman, air mancur dan ladscape-nya,” ucapnya.

Keberadaan Monumen Mataram Metro ini sebenarnya dihajatkan untuk pengembangan kawasan selatan Kota Mataram menjadi kawasan pusat pemerintahan. Monumen ini menjadi ikon selamat datang bagi pengunjung yang datang dari arah Bandara Internasional Lombok ke Kota Mataram. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *