Dewan Akan Panggil ITDC dan Warga, Polemik Lahan MotoGP Mandalika

Mataram (Lomboknews.my.id) – Persoalan lahan yang belum tuntas di lokasi pembangunan Sirkuit Mandalika tidak boleh berlarut-larut. “Karena persoalannya kita dihadapkan pada tenggak waktu yang sebentar. Apa kata daerah lain kalau kita tidak bisa mengeksekusi tahun 2021?” kata Wakil Ketua Komisi V DPRD NTB H Lalu Wirajaya, di ruangannya, (28/8) lalu.

Jangan sampai proyek tersebut gagal dan membuat investor lain ragu berinvestasi di NTB. “Kan menjadi bahaya juga, itu yang perlu kita pahami,” kata politisi Partai Gerindra tersebut.

Persoalan lahan, kata Wirajaya, beberapa waktu lalu warga pernah datang melapor ke DPRD NTB. Saat turun ke kawasan KEK Mandalika, ia pun kaget sekitar 16 hektare (ha) lahan belum tuntas di sana.

“Tapi ternyata tidak cukup sekali pertemuan. Mudahan setelah APBDP ini kita agak longgar dan kita akan panggil kembali para pihak untuk penyelesaian kasus tanah di ITDC,” katanya.

Menurutnya, upaya Badan Intelijen Negara Daerah (Binda) NTB yang bertemu dengan para tokoh masyarakat dan tokoh adat sudah sangat tepat. “Kita harus pahami bahwa masyarakat bukan musuh. Masyarakat harus diayomi pemerintah,” jelasnya.

Demikian juga ITDC, walau pun perusahaan tapi juga dibentuk pemerintah.

“Mudahan dengan inisiatif pertemuan antara tokoh masyarakat dan Binda menemukan titik temu. Sehingga masalah tersebut tidak berlarut-larut,” harapnya.

Intinya, ke depan bagaimana mencari solusi bagi masyarakat yang memiliki lahan di sana. “Tidak ada cara penyelesaian terbaik selain musyawarah mufakat,” ujarnya.

Karena itu, Wirajaya meminta semua pihak menurunkan tensi. “Jangan kemudian egois, diperlukan kebijaksanaan untuk menemukan titik temu,” harapnya.

Prinsipnya, dalam penyelesaian lahan masyarakat jangan sampai dirugikan, tapi ITDC juga tidak terlalu diberat. “Supaya semua sama-sama merasa menang, jangan ada yang dirugikan,” ujarnya.

Baca Juga:  Bahas Lahan Sirkuit MotoGP Kabinda dan Tokoh Adat Gelar Musyawarah

Terkait harga tanah, pemerintah juga harus membayar dengan harga yang wajar. Tidak terlalu rendah. Tapi harga juga tidak memberatkan. “Inikan soal selisih harga, kalau duduk bersama, menjelaskan pentingnya pembangunan MotoGP saya kira masyarakat juga tidak akan terlalu sulit,” katanya.

Di sisi lain, pendekatan langsung dengan pemilik lahan akan memudahkan penyelesaian. Tapi kalau melalui calo pasti akan sulit karena mereka mencari untung juga.

Terpisah, Direktur Utama ITDC Abdulbar M Mansoer menyatakan, pembangunan Mandalika International Street Circuit (Sirkuit Mandalika) saat ini masih tahap pekerjaan tanah. Progresnya telah mencapai 60 persen.

“Secara keseluruhan progres pembangunan Sirkuit Mandalika  mencapai lebih dari 40 persen dan ditargetkan pembangunan selesai Juni tahun depan,” katanya, dalam rilis yang diterima Lombok Post.

Abdulbar memastikan, hingga saat ini proses pembangunan Sirkuit Mandalika terus berlangsung dan berjalan sesuai jadwal. “Saat ini kami fokus melakukan percepatan penyelesaian pembangunan Sirkuit Mandalika sehingga event MotoGP 2021 terlaksana dengan lancar,” ujarnya.

Penyelenggaraan MotoGP Indonesia sendiri akan memberikan tiga manfaat utama bagi Indonesia yaitu country branding, tourism attraction, dan multiplier effect. “Kami optimistis ketiga manfaat tersebut dapat membantu pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi dan membangkitkan sektor pariwisata pariwisata dalam negeri paska pandemi.”

Penyelenggaraan MotoGP di Mandalika akan memberi multiplier effect yang besar, antara lain penciptaan lapangan kerja langsung bagi sekitar 7.500 orang, memberikan tambahan investasi lokal sebesar USD 150 juta, menambah jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia hingga 300 ribu orang per tahun, serta diperkirakan meningkatkan belanja wisatawan hingga  USD 40 juta per tahun.

“MotoGP ditonton hampir 430 juta pemirsa televisi di seluruh dunia setiap minggunya dan ini pastinya akan memberikan benefit yang besar bagi Indonesia dan ITDC dalam jangka panjang,” tutup Abdulbar.

Baca Juga:  Operasi Bayi Kembar Siam Terkendala Pandemi Covid-19

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *