Dorong Peningkatan Capaian Sanitasi Layak dan Sanitasi Aman di NTB

Mataram (Lomboknews.my.id) – Pemenuhan target sanitasi layak dan aman di NTB terus dilakukan oleh pemerintah daerah bekerjasama dengan mitra terkait. Salah satunya dilakukan bersama UNICEF dan Mitra Samya yang pada Jumat, 4 September 2020 lalu menggelar Lokalatih Advokasi Sanitasi bagi Kelompok Kerja (Pokja) Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) serta Tenaga Pendaping Provinsi dan Kabupaten/Kota se-NTB.

Direktur Mitra Samya, Husnuzzonni, menerangkan lokalatih tersebut ditujukan untuk mendorong pemenuhan target RPJMN 2020-2024 dan tujuan pembangunan berkelanjutan di NTB. Sacara Nasional, NTB ditargetkan untuk sanitasi layak adalah 90 persen dengan 15 persen di antaranya adalah sanitasi aman.

Selain itu, pelayanan bidang sanitasi juga terus diupayakan. Salah satunya dengan dikeluarkannya Peraturan Gubernur Nomor 09 Tahun 2013 tentang Gerakan Buang Air Besar Sembarangan Nol (BASNO) yang saat ini sedang dalam proses pemutakhiran roadmap untuk periode 2019-2023.

“Peran strategis Mitra Samya dan UNICEF adalah untuk mengawal pencapaian BAsNO tersebut menuju sanitasi aman di NTB. Seperti yang tertuang dalam roadmap BASNO menuju sanitasi aman 2019-2023,” ujar Joni, sapaan akrabnya.

Diterangkan, melalui peran akitf Pokja AMPL di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, pihaknya berharap gerakan BASNO dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat NTB. Sesuai dengan visi misi pemerintah di NTB saat ini.

Institutional and Finance Specialist ISWM, Amrizal Amir, yang juga mengisi materi tentang kelembagaan dan pendanaan dalam lokalatih tersebut menerangkan pencapaian NTB saat ini terbilang cukup baik di tingkat nasional. “Bukan saja karena kinerjanya, tapi memang NTB punya konsistensi dari dulu untuk program air dan sanitasi,” ujarnya.

Menurutnya, dengan capaian saat ini NTB dapat menjadi percontohan di tingkat nasional. Terutama melihat pencapaian-pencapaian target yang banyak dilakukan sebelum batas waktu yang ditentukan. “Artinya ini lebih cepat dari waktu normal (pencapaian target sanitasi) di NTB dibanding provinsi lain,” jelas Amir.

Baca Juga:  MotoGP Mandalika Dipastikan Sesuai Jadwal

Diterangkan, sejak 2002 NTB memang selalu menunjukkan hasil unggul untuk pencapaian kinerja dan inovasi. Namun dengan perkembangan-perkembangan yang terjadi, pemanfaatan informasi teknologi (IT) disebutnya menjadi salah satu tantangan yang bisa digarap.

Terutama untuk menyiapkan aspek berkelanjutan dan mempertahankan kualitas di bidang sanitasi. “Kalau sekarang kita kuat dengan IT, pendekatannya mesti melingkupi juga bidang itu. Walaupun sudah bagus tanpa IT, tapi NTB akan lebih lengkap dengan itu,” jelasnya.

Terpisah, Kepada Bidang (Kabid) Perencanaan Pembangunan Sosial Budaya Bappeda NTB, Huailid, S.Sos, menerangkan lokalatih yang digelar diharapkan dapat mendorong peningkatan kinerja Pokja AMPL. Terutama kaitannya dengan pendampingan dan koordinasi antara stakeholder terkait yang memegang program sanitasi.

“Koordinasi ini yang perlu kita tingkatkan. Karena kegiatan itu ada di OPD terkait, seperti sanitasi aman ada di Dinas PU, dan BASNO ada di Dinas Kesehatan. Kita harapkan pada teman-teman pokja, pendampingan selalu melakukan koordinasi,” ujarnya.

Kasubid Pendidikan dan Kesehatan Bappeda NTB, Taufiq Hari Suryanto, SKM., menerangkan pemenuhan target di NTB sampai saat ini pencapaian sanitasi layak di NTB berdasarkan data Bappenas yang bersumber dari hasil Susenas BPS 2019 adalah 75,66 persen dan meningkat menjadi 78,80 persen pada 2019. Sedangkan untuk sanitasi aman 2018 mencapai 4,29 persen.

Pencapaian ini dinilai masih cukup jauh dari target yang ditetapkan oleh pemerintah pusat sampai dengan tahun 2024 yaitu 84% untuk sanitasi layak dan 11% untuk sanitasi aman. “Memang kalau dilihat dari sisi target di RPJMN kita masih ada sisa waktu sampai 2024. Kalau dari target setiap tahun, kita sudah bisa mencapai,” jelasnya.

Diterangkan, sampai saat ini Pemprov NTB dan Pemda Kabuapten/kota telah bersinergi untuk mencapai target BASNO dan meningkatkan layanan sanitasi aman untuk mencegah penyakit-penyakit berbasis lingkungan, seperti diare dan muntaber, serta dampak jangka panjang untuk dapat menekan angka stunting sehingga kualitas SDM di NTB semakin meningkat.

Baca Juga:  Mahasiswa D3 Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan UMMAT, Ukir Prestasi Nasional

Berbagai inisiasi telah dilakukan dalam pembangunan infrastruktur dan suprastruktur sanitasi. Dicontohkan antara lain pembangunan Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik (SPALD) baik setempat maupun terpusat, dengan pendanaan yang bersinergi melalui APBD Provinsi, APBD Kabupaten/Kota, Baznas, APBN, DAK maupun CSR. Di Kabupaten Sumbawa Barat dan Kabupaten Lombok Timur juga telah dilaksanakan program Safely Managed Sanitation atau Sanitasi Aman dalam rangka meningkatkan pengelolaan air limbah domestik yang aman.

Menurutnya, dari 1.138 kelurahan dan desa yang ada di NTB, target tersebut telah terealisasi di sekitar 600 kelurahan/desa. “Artinya kita sudah melebihi separuh untuk ODF (Open Defecation Free). Walaupun masih cukup banyak, target ini sudah kita turunkan ke kabupaten/kota,” jelasnya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *