Mesin Pengolah Sampah di Desa Lembuak Narmada Lobar Hilang

Lobar (Lomboknews.my.id) – Setidaknya ada sembilan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS3R) yang dibangun dari berbagai sumber angggaran di Lombok Barat (Lobar) hingga tahun 2017. Dari sembilan unit TPS ini, delapan di antaranya mangkrak, lantaran alatnya rusak dan hilang.

Anggaran yang dihabiskan untuk membangun TPS ini masing-masing unit berkisar Rp450 – Rp600 juta.  Sampai saat ini, semua TPS3R yang dibangun provinsi dan beberapa pihak dengan total nilai Rp4-5 miliar tersebut belum diserahterimakan ke Pemda Lobar.

Berdasarkan penelusuran Suara NTB,  TPS3R yang mengkrak ada di Desa Lembuak Kecamatan Narmada. TPS3R yang dibangun dengan nilai Rp500 juta lebih ini tak berfungsi maksimal sejak dibangun beberapa tahun lalu.

Kondisi TPS ini sangat memprihatinkan. Sampah menumpuk, hingga meluber ke luar dan mengganggu para pengendara. Menurut Plt Camat Narmada, M. Busyairi, TPS3R ini memang tak berfungsi maksimal. “Tumpukan sampah sudah membusuk, karena pengolahannya ndak jalan,” jelas dia. Akibatnya, sampah dibuang begitu saja di TPS.

Dia berencana bersama warga akan gotong-royong membersihkakn sampah di TPS itu namun terkendala anggaran untuk sewa alat berat. Untuk alat berat itu butuh dana sekitar Rp2 juta. “Saya mau gotong royong tapi ndak cukup manual, karena sampah sudah numpuk dan membusuk. Sehingga butuh alat berat,” tutur dia.

Kondisi bangunan TPS sebenarnya masih bagus. Hanya saja tak difungsikan. Pihak DLH sudah berupaya melakukan pengangkutan sampah, tapi belum tuntas. Sementara tumpukan yang membusuk belum bisa diangkat.

Nasib serupa dua TPS yang tidak jalan di wilayah Gerung. Masing-masing ada di Desa Babussalam dan Kelurahan Gerung Selatan dengan nilai Rp1,2 miliar. Di mana masing-masing TPS dibangun senilai Rp600 juta. TPS ini dilengkapi dengan peralatan Osamtu (tungku) pembakaran dengan nilai Rp180 juta satu unit. Selain itu, TPS di Desa Jatisela juga mangkrak. Di desa ini ada Unit Pengolahan Sampah (UPS) yang dibangun senilai Rp450 juta di Dusun Ireng Daye. UPS ini dibangun tahun 2017.

Baca Juga:  9 Kabupaten/Kota Kekeringan, BPBD Tidak Punya Dana

Camat Gunungsari, M. Mudassir mengakui kondisi TPS yang mengkrak tersebut. Ada dua TPS dibangun di Gunungsari yakni di Jatisela dan Midang. “Memang ndak berfungsi di (Jatisela), kalau di Midang itu juga berjalan tapi belum maksimal,” terang dia.

Kepala Desa Midang, Samsudin mengatakan TPS3R difungsikan namun belum maksimal,. “Malah satu-satunya TPS3R yang hidup,” katanya. Hanya saja pengolahan 3 R nya belum optimal. Saat ini aktivitas di TPS3R, yakni pemilahan organik dengan anorganik. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos, bahkan sudah banyak kompos yang dihasilkan. 40-50 persen sampah organik bisa diolah di TPS. Sedangkan sisanya sampah anorganik dibuang ke TPA Kebon Kongok.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Lobar, Budi Damajaya mengakui ada sembilan TPS3R yang dibangun di Lobar hingga tahun 2017 kondisinya mangkrak. Hanya Satu TPS yang aktif, sedangkan sisanya tidak difungsikan. “Itu akibat semua mesin rusak dan hilang juga,” beber Budi. Menuurutnya pengolahan sampah (3R) seharusnya berjalan karena yang dihentikan (distop) adalah pembakaran. Sebab secara aturan tidak boleh. Sejauh ini TPS ini belum diserahkan ke Pemda Lobar. “Kami akan turun cek lagi, mendata. Nanti kami akan koordinasi dengan provinsi,” ujar dia.

Langkah pihaknya kedepan akan berupaya memfungsikan lagi TPS3R. Pihaknya akan mencarikan mesin pencacah agar semua TPS ini bisa hidup lagi. ‘’Tidak ada istilah mangkrak, kami beurpaya akan fungsikan kembali. Kami berterima kasih ke provinsi sudah membangunkan TPS,” ujar dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *