Kampung Qur’an di Desa Taman Ayu, Perkuat Pondasi Agama Mengajarkan Anak Mengaji dan Menghapal

Lobar (Lomboknews.my.id) – Desa Taman Ayu Kecamatan Gerung Lombok Barat (Lobar) membuat Kampung Qur’an untuk memperkuat pondasi pemahaman keagamaan melalui berbagai kegiatan seperti belajar mengaji, Tahsin, menghapal Al-Qur’an (Tahfiz). Upaya ini untuk mencegah terjadinya degradasi pemahaman generasi penerus yang saat ini mulai mengancam akibat permainan gadget dan media sosial (medsos).

DESA penghasil listrik PLTU Jeranjang yang terletak di pinggiran kota Gerung ini, salah satu kampung yakni Dusun Gunung Malang telah lama melaksanakan kegiatan mengaji bagi anak-anak. Namun beberapa tahun lalu sempat vakum, dan mulai diaktifkan lagi oleh Tajuddin selaku Kepala Desa Taman Ayu bersama warga setempat.

Adalah almarhumah bapaknya yang mengawali kegiatan mengaji tersebut, bahkan untuk mengaji almarhum bapaknya membangunkan tempat khusus. “Warisan” dari orang tua inipun diaktifkan lagi oleh Tajuddin. “Karena di generasi usia dini ini kayak terjadi misorientasi, sudah mulai tergerus dan terjadi pergeseran tentang keagamaaan dan Al-Qur’an ini,” jelasnya, Senin, 12 Oktober 2020.

Ia mengambil contoh anaknya sendiri yang masih duduk di bangku SD, sebelum ada Kampung Qur’an kalau belajar agama cukup mencari melalui Google lawat Handphone. Di sinilah, ujarnya, dikhawatirkan terjadi pergeseran, karena pelajaran agama seolah disimpan di handphone dan bergantung melalui Google. “Saya pun berpikir harus ada pondasi yang kuat, pondasi agama dan Al-Qur’an ini melalui kegiatan di Kampung Quran ini,” jelasnya.

Ia ingin melanjutkan pondasi yang telah dilakukan almarhum bapaknya. Yakni saat ini anak-anak yang diajarkan dulu masih mengafal Al-Qur’an. “Bahkan terasa sekali saat Corona, anak-anak yang dulu dididik bisa menjadi imam dan masih hafal Al-Qur’an,”terang dia.

Semenjak diaktifkan dua tahun lalu, sejauh ini Kampung Qur’an ini sudah menampung 80 anak didik. Aktivitas dari 80 anak ini jelas dia, belajar mengaji Al-Qur’an tingkat dasar, Tahsin, dan belajar Tahfiz. Sejauh ini aku dia, ada anak didik yang sudah mampu menghafal Al-Qur’an.  Untuk mendukung kegiatan belajar anak-anak, ia membangun kantor, menyiapkan sound system hingga membelikan proyektor. Sedangkan pengajar berasal dari daerah setempat.

Baca Juga:  “vintage chopper electric bike” Sepeda Listrik Simbol Teknologi NTB

Saat ini, pola pembelajaran yang diterapkan sendiri masih model lama (klasik). Sore hari anak-anak belajar tahfiz dan malamnya murajahah untuk mengisi waktu luang. Sebagian anak lainnya  mengaji Iqra’ dan pagi hari (Subuh) mereka tahfiz lagi.

Ke depan pihaknya mau mengubah pola ini menjadi kombinasi modern. Seperti pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, sering dilakukan khataman (menamatkan) Al-Qur’an. Anak-anak yang khatam diminta membaca surat satu per satu. Pola ini ingin diperkaya lagi dengan anak-anak juga harus dites hafalan Al-Qur’annya. “Kami tidak mau mengubah maulidnya tapi pola khatam Al-Qur’an, tuan guru tes hafalan anak-anak,” ujar dia. Rencananya pola ini akan diterapkan pada maulid ke depan.

Diakuinya, dampak adanya Kampung Qur’an ini sangat signifikan terhadap anak-anak. Anak-anak yang sebelumnya senang main HP, gadget justru beralih lebih intens membahas soal hafalan Al-Qur’an. Aritnya perhatian mereka bisa dialihkan ke hal-hal yang positif. Dampak positif lainnya mereka menjadi lebih rajin ibadah salat berjamaah ke masjid.

Bagaimana dukungan pihak desa? pihaknya memberikan insentif melalui dana Desa (DD) kepada semua guru ngaji di desa itu, yakni per bulan guru ngaji diberikan insentif Rp100 ribu. Total guru ngaji yang diberikan 50 orang.  Selain itu, sebagai bentuk apresiasi terhadap para peserta didik, dan guru ngaji pihak desa bisa mengadakan semacam festival.  Dalam waktu dekat ini lanjut dia, akan ada pelatihan bagi para guru ngaji.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *